Social Icons

Pages

24 January 2013

PROKRASTINASI AKADEMIK

1.      Pengertian Prokrastinasi .
Prokrastinasi yang dalam bahasa Inggris disebut procrastination berasal dari kata bahasa Latin procrastinare. Kata procrastinare merupakan dua akar kata yang dibentuk dari awalan pro yang berarti mendorong maju atau bergerak maju, dan akhiran crastinus yang berarti keputusan hari esok. Jadi, secara harfiah, prokrastinasi berarti menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya (DeSimone dalam Ferrari dkk., 1995: 4).

Adapun menurut istilah, dalam bahasa Inggris kata procrastinate - kata kerja dari procrastination - berarti “to avoid starting an activity without any reason” (Hornby & Ruse, 1990: 494). Artinya, prokrastinasi adalah menghindari aktivitas tanpa alasan. Balkis dan Duru (2009: 19) menyatakan: “Procrastination is defined as a behavior in which an individual leaves a feasible, important deed planned beforehand to another time without any sensible reason”. (Prokrastinasi merupakan perilaku individu yang meninggalkan kegiatan penting yang bisa dilakukan dan telah direncanakan sebelumnya tanpa alasan yang masuk akal). Jadi, dalam pandangan Balkis dan Duru, seseorang dikatakan melakukan prokrastinasi jika ia menunda pekerjaan penting tanpa alasan yang logis, padahal ia bisa melakukannya pada waktunya sesuai dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya.
Sementara itu, Solomon & Rothblum (1984: 503) mengatakan: Procrastination, the act of needlessly delaying tasks to the point of experiencing subjective discomfort, is an all-too-familiar problem”. Pernyataan ini menjelaskan bahwa suatu penundaan dikatakan sebagai prokrastinasi apabila penundaan itu dilakukan pada tugas yang penting, dilakukan berulang-ulang secara sengaja, menimbulkan perasaan tidak nyaman, serta secara subyektif dirasakan oleh seorang prokrastinator. Dalam kaitannya dengan lingkup akademik, prokrastinasi dijelaskan sebagai perilaku menunda tugas-tugas akademis (seperti: mengerjakan PR, mempersiapkan diri untuk ujian, atau mengerjakan tugas makalah) sampai batas akhir waktu yang tersedia (Solomon & Rothblum, 1984: 505).
Meskipun perilaku prokrastinasi adalah fenomena umum dan perilaku yang tidak baik, tampaknya tidak mudah mendefinisikannya dengan cara yang dapat diterima oleh semua pihak. Jika semua definisi dibandingkan, maka sering terlihat bahwa definisi-definisi tersebut mencakup tindakan dan perilaku yang mempengaruhi efektivitas individu dengan cara yang negatif. Selain adanya keragaman definisi prokrastinasi, prokrastinasi tidak selalu diartikan sama dalam perspektif budaya dan bahasa manusia. Misalnya, bangsa Mesir Kuno mengartikan prokrastinasi dengan dua arti. Pertama, prokrastinasi diartikan sebagai kebiasaan yang berguna untuk menghindari pekerjaan yang tidak terlalu penting dan usaha yang impulsif. Kedua, prokrastinasi dianggap sebagai kebiasaan berbahaya akibat kemalasan dalam menyelesaikan suatu tugas yang penting untuk nafkah hidup, seperti mengerjakan ladang ketika waktu menanam sudah tiba (Ferrari dkk., 1995: 4).
Kebanyakan literatur tentang prokrastinasi menyajikan perbedaan antara prokrastinator dan bukan prokrastinator. Prokrastinasi dianggap sebagai perilaku buruk dan merugikan karena memboroskan waktu, menurunkan kinerja, dan meningkatkan stres. Ferrari & Tice (2000: 74) sering menggambarkan pelaku prokrastinator sebagi orang yang malas, manja, dan tidak mampu mengatur dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang bukan prokrastinator (nonprocrastinator) dianggap sebagai orang yang mempunyai efisiensi dan produktivitas tinggi serta kinerja yang unggul. Individu yang bukan prokrastinator juga sering digambarkan sebagai individu yang teratur dan bermotivasi tinggi (Knaus, 2000: 154).
Walaupun beberapa literatur tersebut memberikan konotasi negatif bagi prokrastinasi, beberapa peneliti lain menemukan bahwa dalam jangka pendek prokrastinasi dapat memberikan manfaat. Tice dan Baumeister (1997: 457) melaporkan bahwa dibandingkan dengan orang yang bukan prokrtastinator, para pelaku prokrastinasi mengalami sedikit tekanan atau stres dan memiliki kondisi kesehatan fisik yang lebih baik ketika tenggang waktu pelaksanaan tugas masih lama. Dalam hal ini, prokrastinasi dapat dianggap sebagai sebuah strategi agar dapat mengatur emosi negatif, sehingga ia merasa lebih tenang atau nyaman walaupun untuk sementara waktu (Baumeister, Heatherton, & Tice, 1994: 19). Selain itu, pada prinsipnya, selama tidak ada keterlambatan dalam menyelesaikan tugas, kapanpun tugas itu dilaksanakan tidak berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan (Tice & Baumeister, 1997: 457). Karena itu, dapat dikatakan bahwa prokrastinasi tidak selalu berdampak yang negatif terhadap efektivitas kinerja pelakunya.
Senada dengan hal tersebut, Knaus (2000: 155) membuktikan bahwa tidak semua penundaan pekerjaan mengarah pada hasil negatif atau buruk. Sebagai contoh, karena banyaknya waktu yang diperlukan untuk membuat perencanaan dan melakukan persiapan yang matang, maka penundaan tugas/tidak terburu-buru melaksanakan renacana bisa jadi bermanfaat (Knaus, 2000: 155). Banyak orang mengklaim bahwa walaupun mereka memulai pekerjaan pada menit-menit akhir dari waktu yang tersedia, mereka masih mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Mereka juga mengklaim bahwa mereka cenderung bekerja lebih baik dan lebih cepat atau menghasilkan ide-ide yang lebih kreatif di bawah tekanan waktun (Chu & Choi, 2005: 246). Pemikiran tentang prokrastinasi ini mengarah pada adanya kesan bahwa terdapat lebih dari satu macam prokrastinasi dan dalam beberapa kasus perilaku prokrastinasi itu membawa hasil yang positif.
Dengan adanya kemungkinan bahwa tidak semua perilaku prokrastinasi berdampak negatif, Chu & Choi (2005: 250) membedakan pelaku prokrastinasi (prokrastinator) menjadi dua tipe, yaitu prokrastinator aktif dan prokrastionator pasif. Prokrastinator pasif adalah para pelaku prokrastinasi dalam pengertian yang umum. Secara kognitif, prokrastinator pasif tidak mempunyai niat untuk melakukan prokrastinasi, tetapi mereka tetap menunda tugasnya karena mereka tidak mampu membuat keputusan secara cepat dan bertindak secara cepat pula. Sebaliknya, prokrastinator aktif adalah mereka yang mempunyai kemampuan untuk membuat keputusan dan melaksanakan tugas pada waktunya. Akan tetapi, mereka dengan leluasa menunda-nunda tugas tersebut dan berfokus pada tugas-tugas penting lainnya. Karena itu, prokrastinator pasif dan prokrastinator aktif mempunyai perbedaan dalam dimensi kognitif, afektif, dan perilaku.
Secara afektif, ketika tenggang waktu pelaksanaan tugas hampir habis, prokrastinator pasif merasa sangat tertekan dan memiliki pandangan yang pesimistis, terutama tentang kemampuannya dalam mencapai hasil prestasi yang memuaskan (Ferrari, Parker, & Ware, 1992: 500). Keraguan mereka akan ketidakmampuannya memperbesar peluang kegagalan dan menimbulkan perasaan bersalah dan depresi (Steel, Brothen, & Wambach, 2001: 97). Di pihak lain, prokrastinator aktif senang bekerja di bawa tekanan. Ketika mereka menyisakan sedikit waktu untuk melaksanakan tugas, mereka merasa tertantang dan termotivasi. Perasaan tersebut menjadikan mereka kebal dan mampu bertahan dalam menghadapi berbagai macam kondisi menyakitkan, sebagaimana yang dirasakan oleh prokrastinator pasif.
Dalam perspektif tersebut, prokrastinasi bermakna positif dan fungsional bila dilakukan sebagai upaya konstruktif untuk menghindari keputusan impulsif dan tanpa pemikiran yang matang, dan bermakna negatif dan disfungsional bila dilakukan karena malas atau tanpa tujuan yang pasti.
Dengan demikian, bertolak dari berbagai definisi yang telah diutarakan di atas, secara umum dapat dipahami bahwa prokrastinasi adalah penundaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas. Dalam beberapa kasus, para pelaku prokrastinasi mencoba mengikuti langkah-langkah tertentu untuk mengatasi masalah prokrastinasi mereka. Di antaranya adalah dengan membuat tenggang waktu pelaksanaan tugas, yang dalam istilah Ariely & Wertenbroch (2002: 220) disebut “self-imposed deadlines”. Menurut Ariely & Wertenbroch (2002: 221), “self-imposed deadlines can make performance better”. Dengan self-imposed deadline, seorang individu dapat menunggu informasi yang dianggapnya penting untuk membuat keputusan yang baik atau menuntaskan tugas. Menurut Tykocinski & Ruffle (2003: 156), menunggu informasi merupakan salah satu bentuk prokrastinasi yang bersifat positif jika informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Karena itu, prokrastinasi tersebut dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan tujuan dan manfaat penundaan, yaitu:
Ø  prokrastinasi yang disfungsional (disfunctional procrastination), yang merupakan penundaan yang tidak bertujuan dan merugikan; dan
Ø  prokrastinasi yang fungsional (functional procrastination), yaitu penundaan yang disertai alasan yang kuat, mempunyai tujuan pasti sehingga tidak merugikan, bahkan berguna untuk melakukan suatu upaya konstruktif agar suatu tugas dapat diselesaikan dengan baik.
Adapun pengertian prokrastinasi akademik, maka dalam penelitian ini dibatasi sebagai suatu penundaan yang dilakukan secara sengaja dan berulang-ulang, dengan melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan dalam pengerjaan tugas akademik. Penundaan tersebut bersifat disfungsional, yaitu penundaan yang dilakukan pada tugas yang penting, penundaan tersebut tidak bertujuan, dan bisa menimbulkan akibat yang negatif.
2.      Jenis-jenis Tugas pada Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi dapat dilakukan pada beberapa jenis pekerjaan. Balkis dan Duru (2009: 19) mengatakan bahwa seseorang dapat melakukan prokrastinasi hanya pada hal-hal tertentu saja atau pada semua hal. Adapun jenis-jenis tugas yang sering ditunda oleh prokrastinator adalah: pembuatan keputusan, tugas-tugas rumah tangga, aktivitas akademik, pekerjaan kantor dan lainnya.
Prokrastinasi akademik dan non-akademik sering menjadi istilah yang digunakan oleh para ahli untuk membagi jenis-jenis tugas di atas. Prokrastinasi akademik adalah jenis penundaan yang dilakukan pada jenis tugas formal yang berhubungan dengan tugas akademik, misalnya tugas sekolah atau tugas kursus. Prokrastinasi non-akademik adalah penundaan yang dilakukan pada jenis tugas non-formal atau tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tugas rumah tangga, tugas sosial, tugas kantor dan lain sebagainya (Ferrari, dkk., 1995 :5).
Menurut Solomon dan Rothblum (1984: 505), jenis tugas yang menjadi obyek prokrastinasi akademik adalah: tugas mengarang, belajar untuk menghadapi ujian, membaca, kinerja administratif, mengikuti pembelajaran di kelas, dan kinerja akademik secara keseluruhan. Prokrastinasi pada tugas mengarang meliputi penundaan melaksanakan kewajiban atau tugas-tugas menulis, misalnya: menulis makalah, laporan, atau tugas mengarang. Prokrastinasi pada tugas belajar menghadapi ujian mencakup penundaan belajar untuk menghadapi ujian, misalnya ujian tengah semester, akhir semester, atau ulangan mingguan. Prokrastinasi pada tugas membaca meliputi adanya penundaan untuk membaca buku atau referensi yang berkaitan dengan tugas akedemik yang diwajibkan.
Dalam hal kinerja tugas administratif, prokrastinasi terjadi pada tugas-tugas seperti: menyalin catatan, mengisi daftar hadir di kelas, dan daftar hadir praktikum. Prokrastinasi untuk menghadiri kegiatan pembelajaran, yaitu penundaan maupun keterlambatan dalam menghadiri pelajaran, praktikum dan pertemuan-pertemuan lainnya. Adapun contoh prokrastinasi dalam kinerja akademik secara keseluruhan yaitu menunda mengerjakan atau menyelesaikan tugas-tugas akademik secara keseluruhan.
3.      Ciri-ciri Prokrastinasi Akademik
Prokrastinasi sebagai suatu perilaku penundaan mempunyai karakteristik. Menurut Burka & Yuen (1983: 16), seorang prokrastinator memiliki karakteristik-karakteristik tertentu, yang disebut sebagai “kode prokrastinasi”. Kode prokrastinasi ini merupakan cara berpikir yang dimiliki oleh seorang prokrastinator, yang dipengaruhi oleh asumsi-asumsi yang tidak realistis sehingga menyebabkannya memperkuat prokrastinasi yang dilakukannya, meskipun mengakibatkan frustrasi. Kode-kode prokrastinasi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kurang percaya diri
Individu yang menunda biasanya berjuang dengan perasaannya yang kurang percaya diri dan kurang menghargai diri sendiri. Individu yang demikian ini kemungkinan ingin berada pada penampilan yang bagus sehingga menunda. Prokrastinator merasa tidak sanggup menghasilkan sesuatu dan terkadang menahan ide-ide yang dimilikinya karena takut tidak diterima orang lain.
b. Perfeksionis
Prokrastinator merasa bahwa segala sesuatunya itu harus sempurna. Lebih baik menunda daripada bekerja keras dan mengambil resiko kemudian dinilai gagal. Prokrastinator akan menunggu sampai dirasa saat yang tepat bagi dirinya untuk bertindak agar dapat memperoleh hasil yang sempurna.
c. Tingkah laku menghindari
Prokrastinator menghindari tantangan. Segala sesuatu yang dilakukannya, bagi prokrastinator seharusnya terjadi dengan mudah dan tanpa usaha.
4.      Komponen Prokrastinasi Akademik
Ferrari dkk., (1995: 16) mengatakan bahwa sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu yang dapat diukur dan diamati ciri-cirinya, yaitu:
a.       Penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi. Seseorang yang melakukan prokrastinasi tahu bahwa tugas yang dihadapinya harus segera diselesaikan dan berguna bagi dirinya, akan tetapi dia menunda-nunda untuk mulai mengerjakannya atau menunda-nunda untuk menyelesaikan sampai tuntas jika dia sudah mulai mengerjakan sebelumnya.
b.      Keterlambatan dalam mengerjakan tugas. Orang yang melakukan prokrastinasi memerlukan waktu yang lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan pada umumnya dalam mengerjakan suatu tugas. Seorang prokratinator menghabiskan waktu yang dimilikinya untuk mempersiapkan diri secara berlebihan, maupun melakukan hal-hal yang tidak dibutuhkan dalam penyelesaian suatu tugas, tanpa memperhitungkan keterbatasan waktu yang dimilikinya. Kadang-kadang tindakan tersebut mengakibatkan seseorang tidak berhasil menyelesaikan tugasnya secara memadai. Kelambanan, dalam arti lambannya kerja seseorang dalam melakukan suatu tugas, dapat menjadi ciri yang utama dalam prokrastinasi akademik.
c.       Kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual. Seorang prokrastinator mempunyai kesulitan untuk melakukan sesuatu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Seorang prokrastinator sering mengalami keterlambatan dalam memenuhi deadline yang telah ditentukan, baik oleh orang lain maupun rencanarencana yang telah dia tentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri. Seseorang mungkin telah merencanakan untuk mulai mengerjakan tugas pada waktu yang telah ia tentukan sendiri, akan tetapi ketika saatnya tiba dia tidak juga melakukannya sesuai dengan apa yang telah direncanakan, sehingga menyebabkan keterlambatan maupun kegagalan untuk menyelesaikan tugas secara memadai.
d.      Melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan. Seorang prokrastinator dengan sengaja tidak segera melakukan tugasnya, akan tetapi menggunakan waktu yang dia miliki untuk melakukan aktivitas lain yang dipandang lebih menyenangkan dan mendatangkan hiburan, seperti membaca (koran, majalah, atau buku cerita lainnya), nonton, ngobrol, jalan, mendengarkan musik, dan sebagainya, sehingga menyita waktu yang dia miliki untuk mengerjakan tugas yang harus diselesaikannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri prokrastinasi akademik adalah penundaan untuk memulai maupun menyelesaikan kerja pada tugas yang dihadapi, keterlambatan dalam mengerjakan tugas, kesenjangan waktu antara rencana dan kinerja aktual dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyenangkan daripada melakukan tugas yang harus dikerjakan.
5.      Teori-teori tentang Prokrastinasi Akademik
Berikut ini akan disajikan beberapa pandangan teoritis mengenai prokrastinasi akademik, yakni ditinjau dari teori-teori yang berasal dari Barat, seperti: Psikodinamika, Behaviorisme, dan Behavioral Kognitif; serta Psikologi Islam.
a. Psikodinamika.
Penganut psikodinamika beranggapan bahwa pengalaman masa kanak-kanak akan mempengaruhi perkembangan proses kognitif seseorang ketika dewasa, terutama trauma. Seseorang yang pernah mengalami trauma akan suatu tugas tertentu, misalnya gagal menyelesaikan tugas sekolahnya, akan cenderung melakukan prokrastinasi ketika ia dihadapkan lagi pada suatu tugas yang sama. Orang tersebut akan teringat kepada pengalaman kegagalan maupun perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami seperti masa lalu, sehingga seseorang menunda mengerjakan tugas sekolah, yang dipersepsikannya akan mendatangkan perasaan seperti masa lalu (Ferrari dkk, dalam Romano, 1996: 698).
Berkaitan dengan konsep tentang penghindaran tugas, Freud (dalam Ferrari dkk, 1995: 8) mengatakan bahwa seseorang yang dihadapkan pada tugas yang mengancam ego pada alam bawah sadar akan menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Perilaku penundaan atau prokrastinasi merupakan akibat dari penghindaran tugas dan sebagai mekanisme pertahanan diri. Seseorang bisa secara tidak sadar melakukan penundaan untuk menghindari penilaian yang dirasakan akan mengancam keberadaan ego atau harga dirinya. Akibatnya, tugas yang cenderung dihindari atau yang tidak diselesaikan adalah jenis tugas yang mengancam ego seseorang, seperti menghindari tugas-tugas sekolah sebagaimana tercermin dalam perilaku prokrastinasi akademik.
b. Behaviorisme.
Penganut aliran Behaviorisme beranggapan bahwa perilaku prokrastinasi akademik muncul akibat proses pembelajaran. Seseorang yang pernah merasakan sukses dalam melakukan tugas sekolah dengan melakukan penundaan, cenderung akan mengulangi lagi perbuatannya. Sukses yang pernah dia rasakan akan dijadikan hadiah (reward) untuk mengulangi perilaku yang sama di masa yang akan datang (Bijou dkk, dalam Ferrari dkk, 1995: 8). Adanya obyek lain yang memberikan hadiah lebih menyenangkan daripada obyek yang diprokrastinasi, menurut McCown dan Johnson (dalam Ferrari dkk, 1995: 9), juga dapat memunculkan perilaku prokrastinasi akademik. Seseorang yang memandang bermain video game lebih menyenangkan daripada mengerjakan tugas sekolah, mengakibatkan tugas sekolah lebih sering diprokrastinasi daripada bermain video game.
Di samping hadiah yang diperoleh, prokrastinasi akademik juga cenderung dilakukan pada jenis tugas sekolah yang memiliki konsekuensi hukuman (punishment) dalam jangka waktu yang lama. Hal itu bisa terjadi karena konsekuensi hukuman yang akan dihadapi kurang begitu kuat untuk menghentikan perilaku prokrastinasi. Misalnya, jika seseorang terpaksa harus memilih untuk menunda belajar ujian semester atau menunda untuk mengerjakan pekerjaan rumah mingguan, maka kencederungan untuk menunda belajar untuk ujian semester lebih besar daripada menunda mengerjakan pekerjaan rumah minggguan. Kecenderungan tersebut timbul karena resiko nyata akibat menunda pekerjaan rumah mingguan lebih cepat dihadapi/diterima daripada resiko akibat menunda belajar untuk ujian semester.
c. Behavioral Kognitif (Cognitive-Behavioral).
Ellis dan Knaus (dalam Tuckman, 2002: 1) memberikan penjelasan tentang prokrastinasi akademik dari sudut pandang Cognitive-Behavioral. Menurutnya, prokrastinasi akademik terjadi karena adanya keyakinan irrasional yang dimiliki oleh seseorang. Keyakinan irrasional tersebut dapat disebabkan oleh suatu kesalahan dalam mempersepsikan tugas sekolah, seperti: memandang tugas sebagai beban yang berat dan tidak menyenangkan (aversiveness of the task) serta takut mengalami kegagalan (fear of failure) (Solomon dan Rothblum, 1984: 505). Akibatnya, ia merasa tidak mampu untuk menyelesaikan tugasnya secara memadai, sehingga ia menunda penyelesaian tugas tersebut.

0 comments: