Social Icons

Halaman

24 Januari 2013

Locus of Control


1.      Pengertian Locus of Control
Konsep tentang Locus of Control (lokus kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966: 6), seorang ahli teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory). Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri (Rotter, 1966: 7). Individu yang memiliki keyakinan bahwa nasib atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya berada di bawah kontrol dirinya dikatakan sebagai individu yang memiliki internal locus of control. Sementara itu, individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan sebagai individu yang memiliki external locus of control. Kreitner & Kinichi (2001: 203) mengatakan bahwa hasil yang dicapai locus of control internal dianggap berasal dari aktivitas dirinya. Sedangkan pada individu dengan locus of control eksternal menganggap bahwa keberhasilan yang dicapai dikontrol oleh keadaan sekitarnya.

Efikasi Diri (Self Efficacy)

Efikasi diri merupakan konsep yang relatif baru di dalam penelitian akademik. Walaupun kajian efikasi diri lebih banyak dilakukan dalam konteks terapi, beberapa studi terkini menunjukkan bahwa efikasi diri memegang kekuatan signifikan untuk memprediksi dan menjelaskan kinerja akademik di berbagai bidang.
1.      Pengertian Efikasi Diri
Efikasi diri dinyatakan sebagai “people's judgments of their capabilities to organize and execute courses of action required to attain designated types of performances" (Bandura, 1986: 61). Artinya, efikasi diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dia dapat menjalankan suatu tugas pada suatu tingkat tertentu, yang mempengaruhi tingkat pencapaian tugasnya. Efikasi diri merupakan konsep yang diturunkan dari Teori Kognitif Sosial (Sosial-Cognitive Theory) yang digagas oleh Albert Bandura (1945-…). Teori ini memandang pembelajaran sebagai penguasaan pengetahuan melalui pemrosesan secara kognitif informasi yang diterima.

21 Januari 2013

Metode Berpikir Ilmiah

A.     Pendahuluan.
Makalah ini merupakan resume terhadap buku berjudul Filsafat Ilmu, karya Dr. Cecep Sumarna, M.Ag. Pada makalah ini terdapat paparan singkat mengenai suatu persoalan yang sangat vital dalam dunia keilmuan, yaitu metode berpikir ilmiah. Walaupun singkat, makalah ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan pokok: “apa itu metode ilmiah?”, “Dari mana metode ini dibangun?”, dan “untuk apa metode ini digunakan dalam dunia ilmiah?”

FILSAFAT ILMU (Bagian 2)


  1. Metafisika.
Kata metafisika berasal dari kata Yunani meta dan physika. Meta artinya sesudah sesuatu atau di balik sesuatu). Physika artinya nyata, konkret dan dapat dijangkau indera. Jadi, metafisika artinya eksistensi di balik sesuatu. Ilmu yang mengkaji metafisika disebut ontologi.
Istilah metafisika dipopulerkan pertama kali oleh Andronicos dari Rhodes sekitar tahun 70 SM. Dalam mengartikan hakikat sesuatu, Aristoteles lebih cenderung menggunakan istilah proto phyloshopia atau first phylosophy (filsafat pertama),  knowledge of cause (pengetahuan tentang sebab akibat), the study of being as being (studi tentang apa adanya), study of the eternal and immovable (studi tentang hal-hal yang abadi dan tidak dapat digerakkan ), dan theology (ilmu yang membincangkan tentang Tuhan dan bagaimana manusia harus berhadapan dengan Tuhan).

FILSAFAT ILMU (Bagian 1)


Makalah ini berisi intisari materi perkuliahan Filsafat Ilmu yang telah berlangsung selama setengah semester pertama kelas Psikologi Pendidikan Islam, Program Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Materi pembahasan dalam makalah ini disajikan tidak berdasarkan urutan waktu penyajian/pembahasannya, melainkan berdasarkan harapan agar terdapat kesinambungan dalam tata pikir penulis yang diungkapkan dalam  makalah ini. Karena itu, bahasan mengenai Estetika sengaja disajikan paling akhir walaupun telah dibahas sebelum Metafisika.
Selain itu, untuk menghasilkan pembahasan yang lebih bermakna, pembahasan yang akan disajikan berikut ini tidak lepas dari upaya untuk menjawab persoalan yang bersifat ontologis, epistemologis, dan aksiologis.