1.
Pengertian Locus of Control
Konsep tentang Locus of Control (lokus kendali)
pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966: 6), seorang ahli teori pembelajaran
sosial (Social Learning Theory). Locus of control merupakan salah
satu variabel kepribadian yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap
mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri (Rotter, 1966: 7).
Individu yang memiliki keyakinan bahwa nasib atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya
berada di bawah kontrol dirinya dikatakan sebagai individu yang memiliki internal
locus of control. Sementara itu, individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah
yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam
kehidupannya dikatakan sebagai individu yang memiliki external locus of control.
Kreitner & Kinichi (2001: 203) mengatakan bahwa hasil yang dicapai locus
of control internal dianggap berasal dari aktivitas dirinya. Sedangkan pada
individu dengan locus of control eksternal menganggap bahwa keberhasilan
yang dicapai dikontrol oleh keadaan sekitarnya.
Zimbardo (1985: 115) menyatakan bahwa dimensi internal dan eksternal
dalam locus of control dari Rotter memfokuskan pada strategi pencapaian tujuan
tanpa memperhatikan asal tujuan tersebut. Bagi seseorang yang mempunyai internal
locus of control akan memandang dunia sebagai sesuatu yang dapat diramalkan
dan perilaku individu turut berperan di dalamnya. Sebaliknya, individu yang
mempunyai external locus of control akan memandang dunia sebagai sesuatu
yang tidak dapat diramalkan. Demikian juga dalam mencapai tujuan, perilaku individu
tidak akan mempunyai peran di dalamnya.
Individu yang mempunyai external locus of control
diidentifikasikan lebih banyak menyandarkan harapannya untuk bergantung pada orang
lain dan lebih banyak mencari dan memilih situasi yang menguntungkan (Kahle dalam
Riyadiningsih, 2001: 155). Sementara itu, individu yang mempunyai internal
locus of control diidentifikasikan lebih banyak menyandarkan harapannya
pada diri sendiri dan juga lebih menyenangi keahlian-keahlian dibanding hanya
situasi yang menguntungkan.
Konsep tentang locus of control yang digunakan Rotter (1966:
7) memiliki empat konsep dasar, yaitu:
- Potensi perilaku, yaitu setiap kemungkinan yang secara relatif muncul pada situasi tertentu, berkaitan dengan hasil yang diinginkan dalam kehidupan seseorang.
- Harapan, merupakan suatu kemungkinan dari berbagai kejadian yang akan muncul dan dialami oleh seseorang.
- Nilai unsur penguat, yakni pilihan terhadap berbagai kemungkinan penguatan atas hasil dari beberapa penguat lainnya yang dapat muncul pada situasi serupa.
- Suasana psikologis, yakni bentuk rangsangan baik secara internal maupun eksternal yang diterima seseorang pada suatu saat tertentu, yang meningkatkan atau menurunkan harapan terhadap munculnya hasil yang sangat diharapkan.
2.
Karakteristik Locus of Control
Setiap aspek locus of control mempunyai karakteristik yang
khas. Perbedaan karateristik antara internal locus control dengan external
locus of control menurut Crider (1983: 222) sebagai berikut :
a. Internal
Locus Of Control memiliki ciri-ciri, yaitu:
1)
Suka
bekerja keras.
2)
Memiliki
inisiatif yang tinggi.
3)
Selalu
berusaha untuk menemukan pemecahan masalah.
4) Selalu
mencoba untuk berpikir seefektif mungkin.
5) Selalu
mempunyai persepsi bahwa usaha harus dilakukan jika ingin berhasil.
b. External
Locus Of Control memiliki ciri-ciri, yaitu:
1) Kurang
memiliki inisiatif.
2) Mempunyai
harapan bahwa ada sedikit korelasi antara usaha dan kesuksesan.
3) Kurang
suka berusaha, karena mereka percaya bahwa faktor luarlah yang mengontrol.
4) Kurang
mencari informasi untuk memecahkan masalah.
Berdasarkan uraian tersebut diketahui bahwa:
a. Pada
individu yang memiliki internal locus of control, faktor kemampuan dan
usaha terlihat dominan. Oleh karena itu, apabila individu dengan internal
locus of control mengalami kagagalan, maka mereka akan menyalahkan dirinya
sendiri karena kurangnya usaha yang dilakukan. Begitu pula dengan keberhasilan,
mereka akan merasa bangga atas hasil usahanya. Hal ini akan membawa pengaruh terhadap
tindakan selanjutnya pada masa yang akan datang, yakni mereka yakin akan
mencapai keberhasilan apabila berusaha keras dengan segala kemampuannya.
b. Individu
yang memiliki external locus of control melihat keberhasilan dan
kegagalan dari faktor kesukaran dan nasib. Oleh karena itu, apabila mereka
mengalami kegagalan, maka mereka cenderung menyalahkan lingkungan sekitar yang
menjadi penyebabnya. Hal itu tentunya berpengaruh terhadap tindakan di masa
datang. Mereka merasa tidak mampu dan kurang usahanya sehingga mereka tidak
mempunyai harapan untuk memperbaiki kegagalan tersebut.

0 komentar:
Posting Komentar