1.
Pengertian Motivasi Belajar
Dalam
kehidupan sehari-hari, istilah motivasi memiliki pengertian yang beragam, baik
yang berhubungan dengan perilaku individu maupun perilaku organisasi. Dalam
dunia pendidikan, belajar dan motivasi tidak dapat saling dipisahkan. Artinya,
seseorang yang melakukan aktivitas belajar tertentu tentunya didukung oleh
suatu keinginan yang mendorong dirinya untuk mewujudkan keberhasilan dirinya
dalam belajar. Hal ini disebabkan karena motivasi merupakan unsur penting dalam
diri manusia, yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau belajar
manusia. Dalam Psikologi, istilah motivasi sering dibedakan dengan istilah
motif. Untuk lebih jelasnya, berikut ini dijelaskan pengertian dari kedua istilah
tersebut.
Motif adalah “suatu perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan
bekerja seseorang” (Riduwan, 2008: 263). Selain itu, Friedman & Schustack
(2006: 320) mengatakan: “Motif adalah dorongan psikobiologis internal yang
membantu munculnya pola perilaku tertentu”. Konsep motif ini menunjukkan
pemikiran adanya dorongan dalam diri manusia yang mendorong munculnya perilaku
untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, bermain, bersenang-senang, dan
sebagainya. Dengan demikian, motif adalah dorongan atau kekuatan dari dalam
diri seseorang yang dapat menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu.
Berawal
dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang
telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat–saat tertentu terutama bila
kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak. (Sardiman,
20001:71). Di samping itu, pengertian motivasi juga dijelaskan oleh beberapa
ahli secara beragam. Menurut Reasinger & Brownlow (1996: 5), motivasi
adalah “the force that drives a person to engage in activities”.
Artinya, motivasi adalah daya yang mengerakkan dan mengarahkan seseorang untuk
melakukan kegiatan-kegiatan. McDonald, sebagaimana dikutip oleh Sardiman (1990:
74), menyatakan bahwa motivasi adalah “suatu perubahan energi dalam diri seseorang
yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan
tanggapan adanya tujuan”.
Selanjutnya,
Syah (2000: 136), mengatakan: “motivasi ialah keadaan internal organisme – baik
manusia ataupun hewan – yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.” Dalam
pengertian ini motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk
bertingkah laku secara terarah. Secara lebih rinci, Mansur dkk. (2009: 121-122)
menganggap motivasi sebagai unsur yang menjelaskan perilaku, memberi semangat,
serta mengarahkan dan membimbing seseorang terhadap sasaran tertentu.
Secara
umum, beberapa pengertian yang dikemukakan di atas mengandung persamaan, yakni bahwa
motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai
dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan. Karena itu, dalam
motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu :
a.
Bahwa
motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia.
Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem neurofsiologi
yang ada pada manusia.
b.
Motivasi
ditandai dengan munculnya rasa (feeling) atau afeksi seseorang. Dalam hal
ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi
yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c.
Motivasi
akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi, motivasi dalam hal ini sebenarnya
merupakan respons dari suatu aksi, yakni adanya tujuan.
Berdasarkan dari beberapa pendapat tersebut, secara garis besar
dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang
untuk bertindak melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Berkenaan
dengan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri
siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari
kegiatan belajar serta memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan
yang dikehendaki siswa tercapai.
2.
Jenis-jenis Motivasi Belajar
Motivasi yang menyebabkan siswa melakukan kegiatan belajar dapat
timbul dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Karena itu, dalam
perkembangannya, motivasi belajar dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi
intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
- Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah “hal dan keadaan yang berasal dari dalam
diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar” (Syah,
2000: 136). Sabri (1996: 85) menyatakan bahwa motivasi intrinsik adalah “motivasi
yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya
dengan tujuan belajar, misalnya : ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh
pengetahuan dan sebagainya”. Motivasi jenis ini dapat timbul karena adanya tiga
hal, yaitu: kebutuhan, pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri, dan
cita-cita atau aspirasi (Azhari, 1996: 75)
- Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah “hal atau keadaan yang datang dari luar
individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar” (Syah,
2000: 137). Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak
secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar
untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan
hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain
merupakan contoh konkrit dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa
untuk belajar.
Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi
siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau
pengaruh orang lain. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa bukan berarti motivasi
ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar
motivasi ekstrinsik tetap penting karena kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis
dan berubah-ubah. Selain itu, setiap siswa tidak sama tingkat motivasi
belajarnya. Maka, di dalam kegiatan belajar mengajar, peranan motivasi intrinsik
dan ekstrinsik sangat diperlukan.
3.
Fungsi Motivasi dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masing–masing individu
sebenarnya dilatarbelakangi oleh motivasi. Sehubungan dengan hal tersebut, ada
empat fungsi motivasi, antara lain : mendorong manusia untuk berbuat atau menjadi
penggerak atau motor yang melepaskan energi untuk berbuat, menentukan arah perbuatan,
yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai; menyeleksi perbuatan, yakni menentukan
perbuatan–perbuatan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan, dengan
menyisihkan perbuatan–perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut; dan
sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi (Sardiman, 2001: 83; Mansur
dkk., 2009: 121-122).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa fungsi motivasi dalam
belajar adalah sebagai pendorong, pengarah, dan pemberi semangat pada siswa
untuk melakukan suatu tugas atau perbuatan yang serasi guna mencapai tujuan belajar
yang dikehendaki dengan menyisihkan perbuatan–perbuatan yang tidak bermanfaat
bagi tercapainya tujuan tersebut.
4.
Motivasi dalam Perspektif Psikologi Islam
Salah satu ilmuwan muslim terkemuka
yang mempunyai apresiasi terhadap motivasi adalah Al Ghazālĭ
(1085-1111 M.). Perspektif Al
Ghazālĭ
tentang motivasi dapat ditemukan dalam bukunya Ihyā ‘Ulūm al Dĭn, khususnya dalam rubu’ (bagian) Al Khauf wa Al Rajā (Takut
dan Harapan). Dalam bukunya tersebut, Al Ghazālĭ menekankan pentingnya rasa takut dan harapan bagi manusia. Dia
mengatakan sebagai berikut:
"فإن الرجاء
والخوف جناحان بهما يطير المقربون إلى كل مقام محمود، ومطيتان بهما يقطع من طرق الآخرة
كل عقبة كئود" (Al Ghazālĭ, 1998: 244)
(Sesungguhnya Harapan dan Takut merupakan dua sayap,
yang merupakan sarana pendakian orang-orang yang berupaya mendekatkan diri
kepada Allah menuju setiap peringkat yang terpuji. Keduanya merupakan sarana
untuk meniti jalan akhirat dan memotong setiap tebing yang sulit didaki).
Pernyataan Al Ghazālĭ ini menjelaskan bahwa Harapan dan Takut memiliki
dua manfaat, yaitu:
- sebagai daya dorong untuk melakukan
perjalanan dan perkembangan mental spiritual sehingga memiliki prestasi
yang terpuji; dan
- menjadi kontrol atau pisau kritis terhadap
perjalanan spiritual atau mental.
Implikasinya adalah bahwa apa yang mendorong individu untuk maju
adalah adanya rasa harap dan yang menahannya untuk melakukan perbuatan yang
tidak produktif adalah rasa takut. Di sinilah tampak urgensi peran Al Khauf
dan Al Rajā sebagai motif dasar manusia dalam menggerakkan perilaku
manusia di muka bumi (Darmawan, 2006: 57) pada umumnya, dan belajar pada
khususnya.
Gerak psikologis manusia dalam hal Al Rajā (harapan) digambarkan
Al Ghazālĭ (1998: 245) dalam
tiga kategori sebagai berikut:
فالرجاء هو ارتياح القلب لانتظار ما هو محبوب عنده،
ولكن ذلك المحبوب المتوقع لا بد وأن يكون له سبب، فإن كان انتظاره لأجل حصول أكثر أسبابه
فاسم الرجاء عليه صادق، وإن كان ذلك انتظاراً مع انحزام أسبابه واضطرابها فاسم الغرور
والحمق عليه أصدق من اسم الرجاء، وإن لم تكن الأسباب معلومة الوجود ولا معلومة الانتفاء
فاسم التمني أصدق على انتظاره لأنه انتظار من غير سبب
(Harap/rajā ialah senangnya hati untuk menunggu apa yang disukainya. Akan
tetapi yang disukai dan yang diharapkan itu harus ada sebabnya. Kalau yang
ditunggu itu adalah hasil dari kebanyakan sebab-sebabnya, maka tepat disebut “harap”.
Kalau yang ditunggu itu rusak atau kacau balau sebab-sebabnya, maka lebih tepat
disebut tipuan dan dungu daripada disebut harap. Jika sebab-sebab
itu tidak diketahui dengan jelas adanya atau tidak adanya, maka lebih tepat disebut
angan-angan daripada harap.)
Dari
pernyataan ini diketahui bahwa: Pertama, siswa yang memiliki harapan akan
prestasi gemilang, namun tidak ada sebab yang melatarbelakangi munculnya
harapan tersebut, maka disebut siswa pemimpi, pengharap tanpa sebab
(berangan-angan). Kedua, siswa yang memiliki harapan tentang suatu hal,
tetapi sebab-sebabnya masih tidak jelas atau tidak valid, maka disebut tertipu
atau dungu. Ketiga, siswa yang memiliki harapan dan dia berusaha untuk
melakukan sebab-sebab yang dapat meraihnya, sikap ini yang sebenarnya disebut
harap. Harap merupakan daya gerak terhadap prilaku manusia.
Dalam hal takut, Al Ghazālĭ (1985: 154) menganggap bahwa tidak semua rasa takut itu negatif
dan tidak semua positif. Lebih jelas dia mengatakan:
اعلم ان الخوف محمود وربمايظن ان كل ما هو خوف
محمود فكل ماكان اقوى واكثركان احمد وهوغلط بل الخوف سوط الله يسوق به عباده الى
المواظبة على العلم والعمل لينالوابهما رتبةالقرب من الله تعالى … الخوف له قصور
وله افراط وله اعتدال والمحمود هوالاعتدال والوسط
(Ketahuilah bahwa sesungguhnya khauf itu
terpuji dan terkadang ada yang menganggap bahwa segala sesuatu yang
dinamakan khauf itu terpuji, sehingga segala sesuatu yang lebih kuat
dan lebih banyak dalam masalah ini dianggap lebih baik. Pendapat yang demikian
ini adalah salah. Sebab, sesungguhnya khauf adalah cambuk
Allah yang dengan cambuk ini Allah menggiring hamba-Nya kepada sifat rajin
mencari ilmu dan beramal agar dengan keduanya (ilmu dan amal) seorang hamba
akan memperoleh derajad kedekatan kepada Allah Ta’ala. …
Demikian pula khauf , ada yang singkat/sedikit, yang kuat, dan
yang sedang. Dan yang terpuji atau baik adalah yang sedang/pertengahan.)
Dari
pernyataan tersebut diketahui bahwa rasa takut dapat menggerakkan perilaku
manusia agar memiliki kesungguhan dalam mencari ilmu dan beramal. Rasa takut
memiliki tiga tingkatan, yaitu: (1) Rasa takut yang muncul secara singkat,
seperti takut kepada binatang buas. Rasa takut ini tidak banyak mengubah perilaku
manusia; (2) Rasa takut menengah, yang mendorong manusia untuk mengubah perilaku
dan mencegah anggota badannya melakukan perbuatan maksiat; (3) Rasa takut yang
berlebihan sehingga menghapus tumbuhnya rasa harap, menyebabkan putus asa,
bimbang, dan hilang akal, sehingga mencegah seseorang untuk beramal.
Dengan
demikian, dapat dipahami bahwa takut dan harapan merupakan motivasi yang
mendorong perilaku manusia. Keduanya menjadi motivasi ke arah yang positif jika
berada pada tingkat yang proporsional atau tidak berlebihan. Sebaliknya, jika
keduanya sangat lemah atau terlalu kuat, maka akan berdampak negatif bagi
individu.

0 komentar:
Posting Komentar