Social Icons

Halaman

24 Januari 2013

Motivasi Belajar


1.      Pengertian Motivasi Belajar
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah motivasi memiliki pengertian yang beragam, baik yang berhubungan dengan perilaku individu maupun perilaku organisasi. Dalam dunia pendidikan, belajar dan motivasi tidak dapat saling dipisahkan. Artinya, seseorang yang melakukan aktivitas belajar tertentu tentunya didukung oleh suatu keinginan yang mendorong dirinya untuk mewujudkan keberhasilan dirinya dalam belajar. Hal ini disebabkan karena motivasi merupakan unsur penting dalam diri manusia, yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau belajar manusia. Dalam Psikologi, istilah motivasi sering dibedakan dengan istilah motif. Untuk lebih jelasnya, berikut ini dijelaskan pengertian dari kedua istilah tersebut.
Motif adalah “suatu perangsang keinginan dan daya penggerak kemauan bekerja seseorang” (Riduwan, 2008: 263). Selain itu, Friedman & Schustack (2006: 320) mengatakan: “Motif adalah dorongan psikobiologis internal yang membantu munculnya pola perilaku tertentu”. Konsep motif ini menunjukkan pemikiran adanya dorongan dalam diri manusia yang mendorong munculnya perilaku untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, bermain, bersenang-senang, dan sebagainya. Dengan demikian, motif adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang yang dapat menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu.
Berawal dari kata motif itu, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi aktif pada saat–saat tertentu terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak. (Sardiman, 20001:71). Di samping itu, pengertian motivasi juga dijelaskan oleh beberapa ahli secara beragam. Menurut Reasinger & Brownlow (1996: 5), motivasi adalah “the force that drives a person to engage in activities”. Artinya, motivasi adalah daya yang mengerakkan dan mengarahkan seseorang untuk melakukan kegiatan-kegiatan. McDonald, sebagaimana dikutip oleh Sardiman (1990: 74), menyatakan bahwa motivasi adalah “suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan adanya tujuan”.
Selanjutnya, Syah (2000: 136), mengatakan: “motivasi ialah keadaan internal organisme – baik manusia ataupun hewan – yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu.” Dalam pengertian ini motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Secara lebih rinci, Mansur dkk. (2009: 121-122) menganggap motivasi sebagai unsur yang menjelaskan perilaku, memberi semangat, serta mengarahkan dan membimbing seseorang terhadap sasaran tertentu.
Secara umum, beberapa pengertian yang dikemukakan di atas mengandung persamaan, yakni bahwa motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan adanya tujuan. Karena itu, dalam motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu :
a.    Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi di dalam sistem neurofsiologi yang ada pada manusia.
b.    Motivasi ditandai dengan munculnya rasa (feeling) atau afeksi seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c.    Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi, motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni adanya tujuan.
Berdasarkan dari beberapa pendapat tersebut, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak melakukan sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Berkenaan dengan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar serta memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki siswa tercapai.

2.      Jenis-jenis Motivasi Belajar
Motivasi yang menyebabkan siswa melakukan kegiatan belajar dapat timbul dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya. Karena itu, dalam perkembangannya, motivasi belajar dibedakan menjadi dua macam, yaitu: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
  1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah “hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorong melakukan tindakan belajar” (Syah, 2000: 136). Sabri (1996: 85) menyatakan bahwa motivasi intrinsik adalah “motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar, misalnya : ingin memahami suatu konsep, ingin memperoleh pengetahuan dan sebagainya”. Motivasi jenis ini dapat timbul karena adanya tiga hal, yaitu: kebutuhan, pengetahuan tentang kemajuan dirinya sendiri, dan cita-cita atau aspirasi (Azhari, 1996: 75)

  1. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah “hal atau keadaan yang datang dari luar individu siswa, yang mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar” (Syah, 2000: 137). Bentuk motivasi ekstrinsik ini merupakan suatu dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar, misalnya siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan oleh orang tuanya, pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan lain-lain merupakan contoh konkrit dari motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.
Dalam perspektif kognitif, motivasi intrinsik lebih signifikan bagi siswa karena lebih murni dan langgeng serta tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa bukan berarti motivasi ekstrinsik tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar mengajar motivasi ekstrinsik tetap penting karena kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan berubah-ubah. Selain itu, setiap siswa tidak sama tingkat motivasi belajarnya. Maka, di dalam kegiatan belajar mengajar, peranan motivasi intrinsik dan ekstrinsik sangat diperlukan.
3.      Fungsi Motivasi dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masing–masing individu sebenarnya dilatarbelakangi oleh motivasi. Sehubungan dengan hal tersebut, ada empat fungsi motivasi, antara lain : mendorong manusia untuk berbuat atau menjadi penggerak atau motor yang melepaskan energi untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai; menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan–perbuatan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan–perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut; dan sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi (Sardiman, 2001: 83; Mansur dkk., 2009: 121-122).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa fungsi motivasi dalam belajar adalah sebagai pendorong, pengarah, dan pemberi semangat pada siswa untuk melakukan suatu tugas atau perbuatan yang serasi guna mencapai tujuan belajar yang dikehendaki dengan menyisihkan perbuatan–perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tercapainya tujuan tersebut.
4.      Motivasi dalam Perspektif Psikologi Islam
Salah satu ilmuwan muslim terkemuka yang mempunyai apresiasi terhadap motivasi adalah Al Ghazālĭ (1085-1111 M.). Perspektif Al Ghazālĭ tentang motivasi dapat ditemukan dalam bukunya Ihyā ‘Ulūm al Dĭn, khususnya dalam rubu’ (bagian) Al Khauf wa Al Rajā (Takut dan Harapan). Dalam bukunya tersebut, Al Ghazālĭ menekankan pentingnya rasa takut dan harapan bagi manusia. Dia mengatakan sebagai berikut:
"فإن الرجاء والخوف جناحان بهما يطير المقربون إلى كل مقام محمود، ومطيتان بهما يقطع من طرق الآخرة كل عقبة كئود" (Al Ghazālĭ, 1998: 244)
(Sesungguhnya Harapan dan Takut merupakan dua sayap, yang merupakan sarana pendakian orang-orang yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah menuju setiap peringkat yang terpuji. Keduanya merupakan sarana untuk meniti jalan akhirat dan memotong setiap tebing yang sulit didaki).
Pernyataan Al Ghazālĭ ini menjelaskan bahwa Harapan dan Takut memiliki dua manfaat, yaitu:
  1. sebagai daya dorong untuk melakukan perjalanan dan perkembangan mental spiritual sehingga memiliki prestasi yang terpuji; dan
  2. menjadi kontrol atau pisau kritis terhadap perjalanan spiritual atau mental.
Implikasinya adalah bahwa apa yang mendorong individu untuk maju adalah adanya rasa harap dan yang menahannya untuk melakukan perbuatan yang tidak produktif adalah rasa takut. Di sinilah tampak urgensi peran Al Khauf dan Al Rajā sebagai motif dasar manusia dalam menggerakkan perilaku manusia di muka bumi (Darmawan, 2006: 57) pada umumnya, dan belajar pada khususnya.
Gerak psikologis manusia dalam hal Al Rajā (harapan) digambarkan Al Ghazālĭ (1998: 245) dalam tiga kategori sebagai berikut:
 فالرجاء هو ارتياح القلب لانتظار ما هو محبوب عنده، ولكن ذلك المحبوب المتوقع لا بد وأن يكون له سبب، فإن كان انتظاره لأجل حصول أكثر أسبابه فاسم الرجاء عليه صادق، وإن كان ذلك انتظاراً مع انحزام أسبابه واضطرابها فاسم الغرور والحمق عليه أصدق من اسم الرجاء، وإن لم تكن الأسباب معلومة الوجود ولا معلومة الانتفاء فاسم التمني أصدق على انتظاره لأنه انتظار من غير سبب
(Harap/rajā ialah senangnya hati untuk menunggu apa yang disukainya. Akan tetapi yang disukai dan yang diharapkan itu harus ada sebabnya. Kalau yang ditunggu itu adalah hasil dari kebanyakan sebab-sebabnya, maka tepat disebut “harap”. Kalau yang ditunggu itu rusak atau kacau balau sebab-sebabnya, maka lebih tepat disebut tipuan dan dungu daripada disebut harap. Jika sebab-sebab itu tidak diketahui dengan jelas adanya atau tidak adanya, maka lebih tepat disebut angan-angan daripada harap.)
Dari pernyataan ini diketahui bahwa: Pertama, siswa yang memiliki harapan akan prestasi gemilang, namun tidak ada sebab yang melatarbelakangi munculnya harapan tersebut, maka disebut siswa pemimpi, pengharap tanpa sebab (berangan-angan). Kedua, siswa yang memiliki harapan tentang suatu hal, tetapi sebab-sebabnya masih tidak jelas atau tidak valid, maka disebut tertipu atau dungu. Ketiga, siswa yang memiliki harapan dan dia berusaha untuk melakukan sebab-sebab yang dapat meraihnya, sikap ini yang sebenarnya disebut harap. Harap merupakan daya gerak terhadap prilaku manusia.
Dalam hal takut, Al Ghazālĭ (1985: 154) menganggap bahwa tidak semua rasa takut itu negatif dan tidak semua positif. Lebih jelas dia mengatakan:
اعلم ان الخوف محمود وربمايظن ان كل ما هو خوف محمود فكل ماكان اقوى واكثركان احمد وهوغلط بل الخوف سوط الله يسوق به عباده الى المواظبة على العلم والعمل لينالوابهما رتبةالقرب من الله تعالى … الخوف له قصور وله افراط وله اعتدال والمحمود هوالاعتدال والوسط
(Ketahuilah bahwa sesungguhnya khauf itu terpuji dan terkadang ada yang menganggap bahwa segala sesuatu yang dinamakan khauf itu terpuji, sehingga segala sesuatu yang lebih kuat dan lebih banyak dalam masalah ini dianggap lebih baik. Pendapat yang demikian ini adalah salah. Sebab, sesungguhnya khauf adalah cambuk Allah yang dengan cambuk ini Allah menggiring hamba-Nya kepada sifat rajin mencari ilmu dan beramal agar dengan keduanya (ilmu dan amal) seorang hamba akan memperoleh derajad kedekatan kepada Allah Ta’ala. … Demikian pula khauf , ada yang singkat/sedikit, yang kuat, dan yang sedang. Dan yang terpuji atau baik adalah yang sedang/pertengahan.)

Dari pernyataan tersebut diketahui bahwa rasa takut dapat menggerakkan perilaku manusia agar memiliki kesungguhan dalam mencari ilmu dan beramal. Rasa takut memiliki tiga tingkatan, yaitu: (1) Rasa takut yang muncul secara singkat, seperti takut kepada binatang buas. Rasa takut ini tidak banyak mengubah perilaku manusia; (2) Rasa takut menengah, yang mendorong manusia untuk mengubah perilaku dan mencegah anggota badannya melakukan perbuatan maksiat; (3) Rasa takut yang berlebihan sehingga menghapus tumbuhnya rasa harap, menyebabkan putus asa, bimbang, dan hilang akal, sehingga mencegah seseorang untuk beramal.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa takut dan harapan merupakan motivasi yang mendorong perilaku manusia. Keduanya menjadi motivasi ke arah yang positif jika berada pada tingkat yang proporsional atau tidak berlebihan. Sebaliknya, jika keduanya sangat lemah atau terlalu kuat, maka akan berdampak negatif bagi individu.

0 komentar: