Social Icons

Halaman

25 September 2026

Mengenal Istihadhah

Istihadhah adalah kondisi ketika seorang wanita mengeluarkan darah dari organ intim di luar siklus haid (menstruasi) normal maupun nifas (darah setelah melahirkan). Isu seputar istihadhah sering kali memicu kebingungan bagi kaum hawa, baik dari aspek fikih (hukum Islam) maupun kacamata medis. Dalam hukum Islam, istihadhah dianggap sebagai darah penyakit ('irqun atau darah dari urat yang terluka), bukan darah alami rahim seperti haid. Berbeda dengan wanita haid yang dilarang beribadah, wanita yang mengalami istihadhah tetap dihukumi seperti wanita suci. Mereka wajib tetap mendirikan shalat lima waktu, menjalankan puasa Ramadan, boleh membaca Al-Qur'an, beri'tikaf di masjid, bahkan melayani hubungan suami istri.

Mengingat bahwa istihadhah membawa konsekuensi hukum terkait dengan ibadah mahdoh, maka memahami hukum istihadhah merupakan kebutuhan bagi umat Islam. Untuk itu, jika Anda ingin mengetahui lebih jauh, dapat membuka link Modul Pembelajaran Istihadhah ini: s.id/hnimodul atau risalatuna.vercel.app

01 Mei 2013

صحيفة المدينة
(Piagam Madinah)
بسم الله الرحمن الرحيم
هذا كتاب من محمد النبي صلىالله عليه وسلم بين المؤمنين والمسلمين من قريش ويثرب ومن تبعهم فلحق بهم وجاهد معهم.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah SAW, di kalangan mukminin dan muslimin (yang berasal dari) Quraisy  dan Yatsrib (Madinah), dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama mereka.
١. انهم امة واحدة من دون الناس.
Pasal 1
Sesungguhnya mereka satu umat, lain dari (komuitas) manusia lain.
٢. المهاجرون من قر يش على ربعتهم يتعاقلون بينهم اخذالدية واعطائها وهم يفدون عانيهم بالمعروف والقسط بين المؤمنين
Pasal 2
Kaum muhajirin dari Quraisy sesuai keadaan (kebiasaan) mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka dan mereka membayar tebusan tawanan dengan cara baik dan adil di antara mukminin.

25 Januari 2013

Prokrastinasi Akademik dalam Pandangan Psikolog Muslim

Al Ghazālĭ (1998: 11) berpendapat bahwa perilaku manusia dalam kehidupan serta seluruh interaksinya dengan manusia lain merupakan hasil dari pengetahuan dan pengertiannya, bukan dampak yang dirasakan pada saat kejadiannya. Dia (1998: 453) menetapkan 3 syarat bagi terlaksananya tindakan atau perilaku selain perilaku tabi’at/alami dan perilaku terpaksa/darurat sebagai berikut:
لأن كل عمل أعني كل حركة وسكون اختياري فإنه لا يتم إلا بثلاثة أمور: علم، وإرادة، وقدرة. لأنه لا يريد الإنسان ما لا يعلمه فلا بد وأن يعلم، ولا يعمل ما لم يرد فلا بد من إرادة. ومعنى الإرادة انبعاث القلب إلى ما يراه موافقاً للغرض إما في الحال أو في المآل. …. والعضو لا يتحرك إلا بالقدرة، والقدرة تنتظر الداعية الباعثة، والداعية تنتظر العلم والمعرفة أو الظن والاعتقاد وهو أن يقوى في نفسه كون الشيء موافقاً له، فإذا جزمت المعرفة بأن الشيء موافق ولا بد وأن يفعل، وسمت عن معارضة باعث آخر صارف عنه انبعثت الإرادة وتحقق الميل، فإذا انبعثت الإرادة انتهضت القدرة لتحريك الأعضاء فالقدرة خادمة للإرادة، والإرادة تابعة لحكم الاعتقاد والمعرفة.
(Sesungguhnya setiap perilaku yang disengaja itu tidak akan terwujud kecuali dengan tiga perkara, yaitu: ilmu, kehendak, dan kemampuan. Alasannya adalah karena manusia tidak akan menghendaki sesuatu yang tidak diketahuinya, dan tidak akan berbuat sesuatu tanpa adanya dorongan kehendak, yakni keinginan hati untuk meraih sesuatu yang dianggap layak sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhannya atau mencapai cita-citanya. …

24 Januari 2013

PROKRASTINASI AKADEMIK

1.      Pengertian Prokrastinasi .
Prokrastinasi yang dalam bahasa Inggris disebut procrastination berasal dari kata bahasa Latin procrastinare. Kata procrastinare merupakan dua akar kata yang dibentuk dari awalan pro yang berarti mendorong maju atau bergerak maju, dan akhiran crastinus yang berarti keputusan hari esok. Jadi, secara harfiah, prokrastinasi berarti menangguhkan atau menunda sampai hari berikutnya (DeSimone dalam Ferrari dkk., 1995: 4).

Motivasi Belajar


1.      Pengertian Motivasi Belajar
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah motivasi memiliki pengertian yang beragam, baik yang berhubungan dengan perilaku individu maupun perilaku organisasi. Dalam dunia pendidikan, belajar dan motivasi tidak dapat saling dipisahkan. Artinya, seseorang yang melakukan aktivitas belajar tertentu tentunya didukung oleh suatu keinginan yang mendorong dirinya untuk mewujudkan keberhasilan dirinya dalam belajar. Hal ini disebabkan karena motivasi merupakan unsur penting dalam diri manusia, yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau belajar manusia. Dalam Psikologi, istilah motivasi sering dibedakan dengan istilah motif. Untuk lebih jelasnya, berikut ini dijelaskan pengertian dari kedua istilah tersebut.

Locus of Control


1.      Pengertian Locus of Control
Konsep tentang Locus of Control (lokus kendali) pertama kali dikemukakan oleh Rotter (1966: 6), seorang ahli teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory). Locus of control merupakan salah satu variabel kepribadian yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri (Rotter, 1966: 7). Individu yang memiliki keyakinan bahwa nasib atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya berada di bawah kontrol dirinya dikatakan sebagai individu yang memiliki internal locus of control. Sementara itu, individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan sebagai individu yang memiliki external locus of control. Kreitner & Kinichi (2001: 203) mengatakan bahwa hasil yang dicapai locus of control internal dianggap berasal dari aktivitas dirinya. Sedangkan pada individu dengan locus of control eksternal menganggap bahwa keberhasilan yang dicapai dikontrol oleh keadaan sekitarnya.

Efikasi Diri (Self Efficacy)

Efikasi diri merupakan konsep yang relatif baru di dalam penelitian akademik. Walaupun kajian efikasi diri lebih banyak dilakukan dalam konteks terapi, beberapa studi terkini menunjukkan bahwa efikasi diri memegang kekuatan signifikan untuk memprediksi dan menjelaskan kinerja akademik di berbagai bidang.
1.      Pengertian Efikasi Diri
Efikasi diri dinyatakan sebagai “people's judgments of their capabilities to organize and execute courses of action required to attain designated types of performances" (Bandura, 1986: 61). Artinya, efikasi diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dia dapat menjalankan suatu tugas pada suatu tingkat tertentu, yang mempengaruhi tingkat pencapaian tugasnya. Efikasi diri merupakan konsep yang diturunkan dari Teori Kognitif Sosial (Sosial-Cognitive Theory) yang digagas oleh Albert Bandura (1945-…). Teori ini memandang pembelajaran sebagai penguasaan pengetahuan melalui pemrosesan secara kognitif informasi yang diterima.

21 Januari 2013

Metode Berpikir Ilmiah

A.     Pendahuluan.
Makalah ini merupakan resume terhadap buku berjudul Filsafat Ilmu, karya Dr. Cecep Sumarna, M.Ag. Pada makalah ini terdapat paparan singkat mengenai suatu persoalan yang sangat vital dalam dunia keilmuan, yaitu metode berpikir ilmiah. Walaupun singkat, makalah ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan pokok: “apa itu metode ilmiah?”, “Dari mana metode ini dibangun?”, dan “untuk apa metode ini digunakan dalam dunia ilmiah?”

FILSAFAT ILMU (Bagian 2)


  1. Metafisika.
Kata metafisika berasal dari kata Yunani meta dan physika. Meta artinya sesudah sesuatu atau di balik sesuatu). Physika artinya nyata, konkret dan dapat dijangkau indera. Jadi, metafisika artinya eksistensi di balik sesuatu. Ilmu yang mengkaji metafisika disebut ontologi.
Istilah metafisika dipopulerkan pertama kali oleh Andronicos dari Rhodes sekitar tahun 70 SM. Dalam mengartikan hakikat sesuatu, Aristoteles lebih cenderung menggunakan istilah proto phyloshopia atau first phylosophy (filsafat pertama),  knowledge of cause (pengetahuan tentang sebab akibat), the study of being as being (studi tentang apa adanya), study of the eternal and immovable (studi tentang hal-hal yang abadi dan tidak dapat digerakkan ), dan theology (ilmu yang membincangkan tentang Tuhan dan bagaimana manusia harus berhadapan dengan Tuhan).

FILSAFAT ILMU (Bagian 1)


Makalah ini berisi intisari materi perkuliahan Filsafat Ilmu yang telah berlangsung selama setengah semester pertama kelas Psikologi Pendidikan Islam, Program Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Materi pembahasan dalam makalah ini disajikan tidak berdasarkan urutan waktu penyajian/pembahasannya, melainkan berdasarkan harapan agar terdapat kesinambungan dalam tata pikir penulis yang diungkapkan dalam  makalah ini. Karena itu, bahasan mengenai Estetika sengaja disajikan paling akhir walaupun telah dibahas sebelum Metafisika.
Selain itu, untuk menghasilkan pembahasan yang lebih bermakna, pembahasan yang akan disajikan berikut ini tidak lepas dari upaya untuk menjawab persoalan yang bersifat ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

TRADISI PENGAJARAN KITAB FIQIH SALAF DI PESANTREN


A. Pendahuluan.
Pengajaran kitab salaf – yang lazim disebut kitab kuning[1] -  bukanlah tradisi yang berasal dari Indonesia. Meskipun demikian, tradisi ini mampu bertahan sejak abad XVI. Selama kurang lebih lima abad tradisi ini telah menyatu dengan kehidupan masyarakat pesantren. Padahal selama kurun waktu itu di kalangan umat Islam telah muncul berbagai pemikiran yang sering merupakan kritik terhadap tradisi–tradisi pesantren, khususnya tradisi kitab salaf dalam sistem pendidikannya.
Tradisi kita salaf menunjukkan bahwa signifikansi kitab salaf sangat kuat bagi masyarakat pesantren dalam menjawab berbagai persoalan, khususnya menyangkut persoalan keagamaan. Di samping itu, kuatnya signifikansi kitab salaf di pesantren tentunya berhubunganan erat dengan kontribusinya bagi keberhasilan pengajaran fiqih di pesantren. Sebab, pada kenyataannya tidak semua kitab fiqih salaf digunakan di pesantren. Dengan kata lain, ada proses seleksi yang dilakukan masyarakat pesantren terhadap kitab-kitab fiqih salaf.

22 Januari 2009

Subyek Pendidikan

SUBYEK PENDIDIKAN
(Kajian Tafsir Tarbawy Menurut Surat Ali Imran: 18; An Nahl: 43, 44, 78; Al Kahfi: 66; Fathir: 28; dan An Najm: 5-6)
A. Subyek (Pelaku) Pendidikan dan Perannya Masing-masing.
Secara filosofis, pendidikan merupakan sebuah sistem yang memiliki aspek-aspek yang saling berhubungan. Menurut A.D. Marimba (1989: 19-65), pendidikan adalah proses membimbing atau memimpin yang dilakukan secara sadar oleh pendidik untuk mengembangkan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam proses membimbing atau memimpin tersirat dua pihak yang saling berhubungan, yaitu pendidik dan peserta didik. Selain itu, agar usaha dalam proses tersebut dapat mencapai tujuan pendidikan, maka diperlukan landasan/dasar yang jelas serta alat dan badan/lembaga penyelenggara pendidikan. Dengan demikian, pendidikan terdiri dari beberapa aspek, yaitu: peserta didik, pendidik, dasar, tujuan, alat, dan badan/lembaga pendidikan.

12 Desember 2008

Telaah Pustaka: PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA


Judul Buku : Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan Islam dalam Kurun Moderen
Penulis: Karel A. Steenbrink
Penerbit : LP3ES
Tebal: xix + 261 hlm; 11 cm x 17,5 cm
Tahun Terbit: 1994
A. Pendahuluan.
Pendidikan Islam yang lahir seiring dengan datangnya Islam itu sendiri, meskipun pada mulanya dalam bentuk yang sangat sederhana, dalam sejarahnya senantiasa tidak sunyi dari berbagai persoalan dan rintangan yang dihadapinya – dari berhadapan dengan segala tekanan dan intimidasi pemerintahan kolonial Belanda sampai diberlakukannya Kurikulum 2004 yang kemudian dikembangkan lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006. Walaupun demikian, satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan Islam dengan lembaga pendidikannya yang khas cukup mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia.